Proses Pengeringan Kayu Dengan Kiln Dry Secara Bertahap

23.06

Untuk mendapatkan kwalitas bahan baku kayu yang baik, kayu yang digunakan untuk proses pembuatan furniture harus di keringkan dengan sempurna, salah satu proses pengeringan kayu yang moderen adalah dengan metode kiln dry atau pengeringan konvensional di mana pengeringan kayu dilakukan secara bertahap hingga mencapai tingkat kandungan kadar air pada kayu tersebut yang sangat minim, dengan demikian bahan kayu yang di keringkan tersebut menjadi lebih awet hingga puluhan tahun, kayu menjadi lebih ringan dan tidak mudah pecah, selain itu larva - larva kutu yang ada di dalam kayu pun ikut mati seiring proses pengeringan dengan temperatur hingga 100 derajat celsius, dengan proses pengeringan ini, maka bahan kayu yang di pergunakan untuk membuat mebel akan lebih tahan terhadap serangan jamur. Inti dari pengeringan konvensional adalah mengatur agar temperature/suhu udara di luar dan permukaan kayu pada level tertentu (60-100 derajat celcius) sehingga membuat air di dalam kayu menguap secara perlahan - lahan. Bagaimana cara chamber atau ruang pengering kayu ini bekerja ? mari kita simak bersama di bawah ini :


Kiln Dry adalah suatu ruangan untuk pengeringan kayu. Menurut metode dan peralatan yang digunakan untuk pengeringan kayu maka kiln dry dapat dibagi menjadi : 1. Kiln dry konvensional, Seperti terlihat pada gambar disamping ini metode ini yang paling banyak digunakan untuk pengeringan kayu, dimana pengeringan dilakukan dalam ruangan dengan menggunakan pemanasan (heater) bertahap dibarengi dengan pengendalian kelembaban udara ruangan secara bertahap sesuai schedule pengeringan dari kayu. Sumber panas berasal dari Boiler dapat berupa Hotwater Boiler, Steam Boiler atau Thermal Oil Boiler. 2. Dehumidifier Kiln dry Metode ini menggunakan alat dehumidifier atau alat yang mampu menyerap udara lembab dalam ruangan, caranyanya adalah dengan melewat udara pada suatu "codenser" pada alat dehumidifier dimana udara yang lewat akan mengembun pada permukaan "condenser". Jadi kandungan uap air diserap oleh "condenser" kemudian dialirkan keluar, karena udara disekitanya lebih kering maka kandungan air dalam kayu bergerk keluar ke udara dan diserap oleh condenser. 3. Vacuum Dryer Metode hampir sama dengan metode konvensional menggunakn heater, hanya bedanya kayu dimasukkan kedalam ruangan/tabung vakum untuk mempercepat keluarnya kandungan air didalam kayu.


Boiler menyalurkan uap panas ke dalam ruang pengeringan dengan kecepatan tertentu dan suhu tertentu. Uap panas ini membuat sehu udara di dalam Kiln Dry chamber meningkat. karena ukuran dan colume ruang yang besar, terdapat kipas di dalamnya untuk membuat aliran sirkulasi udara panas merata di dalam ruangan. Agar udara panas tersebut berjalan melalui sela-sela tumpukan kayu. Itulah mengapa sangat penting memperhatikan cara penumpukan di dalam ruang KD.
Suhu panas tersebut membuat kayu 'berkeringat' dan melepaskan kandungan air ke udara. Terdapat kipas lain yang bertugas untuk mengalirkan udara lembab (dari 'keringat kayu') keluar ruangan kiln dry. Proses ini berjalan terus menerus hingga sebagian besar kandungan air di dalam kayu 'terhisap' ke udara bebas. (lihat skema gambar)


Kayu kering (dried sawn timber) setelah keluar ruang KD harus diletakkan di area yang terlindung dari panas dan hujan. Paling tidak bangunan yang beratap dan tidak bocor. Akan lebih baik kalau terdapat dinding dengan ventilasi udara yang baik.

Tidak Kurang Dari 25 M3/chamber
Apabila anda ingin membangun kiln dry baru, sebaiknya kapasitas setiap ruangan tidak kurang dari 25 M3. Volume kayu ini tidak seimbang dengan biaya yang dibutuhkan untuk proses penumpukan, alat kerja dan energi pemanasan. Terkecuali bila anda telah memperhitungkan biaya tersebut seminimal mungkin sehingga berapapun volume kayu tidak akan membuat anda rugi.


Proses Pengeringan Kayu
Proses pengeringan kayu yang akan dibahas berikut ini adalah pengeringan kayu buatan menggunakan Pengering Kayu Konvensional (Conventional Kiln Dryer). Pengeringan kayu alami maupun buatan merupakan proses evaporasi kandungan air dalam kayu dengan waktu tertentu sesuai dengan kondisi udara di sekitarnya. Karena pengeringan kayu merupakan suatu proses, semua faktor pendukung proses pengeringan sangat berkaitan dan saling mempengaruhi.
Lamanya pengeringan tidak dapat dipersingkat dengan hanya menaikkan temperatur ruang oven (chamber). Pemaksaan ini tidak akan membawa hasil yang memuaskan melainkan akan menimbulkan cacat kayu seperti retak atau pecah. Bahkan dapat terjadi kayu tidak dapat dipakai sama sekali.
 
Faktor pendukung proses pengeringan kayu
Proses pengeringan kayu sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor pendukung, antara lain faktor kayu, faktor penyusunan kayu (stacking), faktor ruang oven (chamber). Faktor kayu meliputi jenis kayu, struktur pori-pori kayu, ketebalan kayu, kadar air kayu awal, dan kadar air akhir. Faktor penyusunan kayu sehubungan dengan ukuran tebal ganjal dan cara penyusunannya dalam oven dan palet. Faktor ini juga dipengaruhi oleh kecepatan sirkulasi udara dalam ruang oven. Faktor ruang oven meliputi sirkulasi udara dalam ruang, energi panas yang dipasok, dan pengaturan kelembaban relatif dalam ruang untuk mengabsorbsi uap air dari dalam kayu.
Faktor-faktor tersebut mempengaruhi kayu dalam menyesuaikan kondisi bagian dalam kayu dengan udara yang ada di sekitarnya, sesuai dengan sifat alami kayu yang higroskopis. Bila kondisi di sekitar kayu terlalu jauh berbeda dengan kondisi dalam kayu, akan timbul ketegangan dalam kayu. Tegangan dalam kayu timbul karena pelepasan kandungan air yang tidak merata dalam kayu. Bila tegangan ini tidak dapat diatasi dengan cara kembang susut sel kayu, struktur sel kayu akan pecah atau retak.
Pengendalian proses penyesuaian kayu terhadap lingkungan di sekitarnya merupakan dasar sistem kerja alat pengering kayu. Pengaturan lingkungan sekitar kayu merupakan juga pengaturan cuaca atau iklim sehingga alat pengering kayu juga disebut sebagai alat pengatur atau pengontrol iklim. Pada prinsipnya, penyesuaian kayu pada kondisi iklim yang dibuat, tidak boleh terlalu dipaksakan. Seperti yang telah diuraikan di depan, faktor pembanding tingkat penyesuaian kayu terhadap kondisi iklim di sekitarnya disebut gradient pengeringan. Besar nilai gradient pengeringan menunjukkan perbandingan antara kadar air kayu saat ini dan kadar air keseimbangan yang dituju sesuai dengan iklim yang diprogramkan pada oven.

Proses pengeringan kayu secara umum
Proses pengeringan kayu buatan  secara umum ada 6 tahap, yaitu pemanasan awal (preheating), pengeringan sampai titik jenuh serat (drying down to fiber saturation point), pengeringan dari titik jenuh serat sampai kadar air akhir (drying down from fiber saturation point to final moisture content), pengkondisian pada kadar air akhir (conditioning at final moisture content), pemerataan atau penyamaan kadar air kayu (equalizing),pendinginan dan pembongkaran kayu (cooling down and discharge of timber stack).

1.    Pemanasan awal (preheating);
Kadar air kayu di atas titik jenuh serat mempunyai kandungan air ≥ 30%. Kayu yang akan melalui proses pengeringan buatan mempunyai kadar air antara 40% –70%, sedangkan kadar air rata-rata berkisar antara 50% - 60%.
Pada tahap pemanasan awal, kayu dibasahi lebih dulu dengan jalan menyemprotkan air ke dalam oven dan temperatur diatur agak panas, kira-kira 35˚– 40˚C. Air akan menguap dan membentuk kabut uap air yang pekat sehingga udara akan menjadi berkelembaban tinggi.
Permukaan kayu akan menjadi basah, sehingga tegangan dalam kayu akan mengendur. Proses ini dapat menghilangkan perbedaan tegangan dalam kayu yang timbul pada saat pengeringan alami.
Lama proses pemanasan awal berkisar antara 2 – 12 jam, bergantung pada jenis kayu dan tebal kayu. Kayu yang berwarna terang dan mudah terserang jamur atau kayu yang mempunyai zat ekstraktif minyak, sebaiknya tidak disemprot dengan air, cukup dengan pengkondisian temperatur awal yang rendah 30˚C.

2.    Pengeringan sampai titik jenuh serat (drying down to fiber saturation point);
Titik jenuh serat berkisar antara 21˚C–30˚C, bergantung dengan jenis kayu yang dikeringkan. Kayu dikeringkan mulai dari kadar air 50˚C–60˚C menjadi 21˚C–30˚C. Dengan demikian, nilai gradient pengeringannya sangat tinggi dan mempunyai resiko terjadinya tegangan dalam kayu karena air inti kayu yang terblokir tidak dapat keluar. Penggunaan temperatur tinggi harus dihindarkan. Kipas-kipas udara untuk mensirkulasikan udara dalam oven harus dimanfaatkan. Temperatur maksimal yang digunakan berkisar 40˚C–55˚C.

3.    Pengeringan dari titik jenuh serat sampai kadar air akhir (drying down from fiber saturation point to final moisture content);
Tahap pengeringan bawah titik jenuh serat sangat riskan karena pada tahap ini, kayu mulai melepaskan kandungan air terikatnya. Bila kandungan air terikat dalam dinding sel mulai terevaporasi, kayupun akan bergerak menyusut. Untuk itu yang harus diwaspadai adalah perubahan bentuk. Proses evaporasi harus dikendalikan agar tetap merata pada keseluruhan permukaan kayu sehingga tidak terjadi perbedaan ketegangan dalam kayu.
Temperatur dan kelembaban relatif dikendalikan dengan gradient pengeringan yang tidak terlalu besar. Kadar air 21% 30% harus dapat diturunkan lagi sampai kadar air akhir 6% 8%, sesuai dengan kebutuhan. Temperatur yang digunakan untuk kayu yang mempunyai kandungan zat ekstraktif, sebaikanya antara 55°C 60°C,untuk menghindarkan noda-noda warna atau perubahan warna kayu. Pada kayu normal, temperatur diprogramkan mulai dari 55°C 70° atau 80°C. Sedangkan pada kayu lunak (pinus, sengon) dapat diatur lebih tinggi lagi, 90°C 120°C,untuk mempercepat proses pengeringan kayu (sistem pengeringan kayu temperatur tinggi).

4.    Pengkondisian pada kadar air akhir (conditioning at final moisture content);
Tahap ini adalah tahap penurunan sedikit persentase kadar air kayu di bawah target yang ditetapkan dengan cara sedikit menaikkan temperatur dan mengendalikan kelembaban relatif sedikit kering. Dengan demikian kadar air kayu maksimum adalah kadar air yang ditargetkan. Kayu yang kering akan mempunyai kadar air kayu lebih rendah dari target.

5.    Pemerataan atau penyamaan kadar air kayu (equalizing);
Tahap ini adalah penyemprotan air ke dalam oven sehingga permukaan kayu menjadi sedikit basah. Proses ini adalah untuk menghilangkan tegangan-tegangan dalam kayu akibat kurang meratanya kadar air dalam dan permukaan kayu.
Pada akhir proses, kadar air permukaan kayu mencapai 5% 6%, tetapi pada bagian inti kayu masih 8%. Perbedaan 2% atau 1% dapat disamakan dengan cara pembasahan (water spray) sehingga permukaan kayu juga mempunyai kadar air 8%. Tegangan dalam kayu akan terbebaskan.

6.    Pendinginan dan pembongkaran kayu (cooling down and discharge of timber stack).
Tahap ini adalah tahap penurunan temperatur perlahan-lahan dan penjagaan ketetapan sirkulasi udara dalam ruang oven. Kemudian pintu oven dibuka sedikit sementara kipas sirkulasi tetap dijalankan. Kayu yang panas dapat pecah atau retak bila perubahan udara di sekelilingnya terlalu mendadak. Setelah proses pendinginan, sebaiknya kayu didiamkan ± 1 (satu) minggu sebelum proses produksi berikutnya.
Tahap-tahap pengeringan kayu secara khusus harus menyesuaikan jenis kayu yang dikeringkan pada kelompok jenis kayu. Pengelompokan jenis kayu ini berbeda-beda menurut teknologi produsen alat kontrol oven (electronic kiln controller).
Jenis-jenis kayu dapat dikelompokkan menjadi 3 (tiga), 5 (lima), dan 7 (tujuh) kelompok proses pengeringan. Tetapi yang penting adalah gradient pengeringan dan jenis kayu itu sendiri. Makin tinggi nilai gradien pengeringan kayu, berarti kayu harus makin mudah dan cepat dikeringkan. Bila nilai gradient kayu sangat rendah, berarti kayu tersebut tergolong sulit dan lama dikeringkan, berpori-pori kecil, serta mudah pecah.

Sumber :
A.Dodong Budianto, Sistem Pengeringan Kayu, Penerbit Kanisius, Yogyakarta, 1996.



Untuk mengetahui apa yang terjadi dan proses detil apa yang harus dilakukan agar kandungan air di dalam kayu keluar dan terlepas ke udara, berikut penjelasannya.
Sumber Panas
Teknologi yang ada saat ini terdapat berbagai jenis sumber panas untuk kiln dry. Pada sistem traditional, panas berasal dari sebuah tungku atau ruang pembakaran dengan bahan bakar kayu sisa. Energi panas yang dihasilkan oleh api pembakaran kemudian disalurkan melalui saluran cerobong dengan penghantar kipas. Jenis sumber panas yang lain berasal dari uap air (steam). Untuk memperoleh panas dari uap air maka dibuatlah sebuah boiler (tungku air berukuran besar) yang dipanaskan mengunakan api pembakaran berbahan bakar kayu atau bahan bakar lain. Kemudian uap air tersebut disalurkan melalui pipa-pipa boiler ke seluruh ruangan pengering. Pipa-pipa tersebut disusun berjajar sehingga diperoleh akumulasi suhu yang stabil.


Distribusi Udara
Kipas menjadi salah satu bagian penting dalam sistem distribusi dan stabilizer proses pengeringan kayu. Posisi dan jumlah kipas diatur sedemikian rupa sehingga penyaluran hawa panas di dalam ruang pengering (chamber) tersalur rata dan stabil.
Terdapat beberapa kipas yang bertugas untuk menarik panas uap air, kipas lain bertugas untuk sirkulasi di dalam chamber dan terdapat pula kipas-kipas untuk mengeluarkan udara 'jenuh' ke luar ruangan. Udara jenuh artinya udara yang memiliki kelembaban tinggi dikarenakan kandungan uap air yang berasal dari kayu.

Pada sistem pengeringan yang lebih maju, susunan dan sistem sirkulasi telah berhasil mengatur agar suhu udara terjaga dengan menggunakan semaksimal mungkin hawa panas yang telah tersalur. Dalam hal ini biaya operasional untuk pembakaran boiler bisa dihemat.


Hasil gambar untuk pengeringan kayu


Chamber
Ruangan pengering berperan untuk menjaga kestabilan suhu udara agar tidak tercampur udara luar. Chamber yang baik harus senantiasa dijaga lantainya agar tetap kering dan bersih, terhindar dari aliran air. Lantai perlu dibuat agak miring ke depan (pintu) agar apabila terdapat aliran air (biasanya dari air kayu) akan mengalir ke luar ruang pengering. Pintu ruang pengering harus mampu menyegel udara dari dalam agar tidak keluar dengan mudah.


Heating Up
Untuk hasil terbaik, pada awal proses tidak disalurkan panas yang tinggi. Penyaluran dilakukan secara bertahap dan periodis. Biasanya diawali dengan suhu sekitar 40-50 derajat celcius kemudian disusul menjadi 70-80 derajat celcius pada pertengahan proses. Suhu ini harus dijaga agar tidak berubah terlalu drastis dalam waktu yang terlalu singkat. Oleh karena itulah sebaiknya setiap kiln dry diharuskan adanya pengawasan selama 24 jam (selama terdapat kayu di dalam ruang pengering) untuk menjaga distribusi panas.

Hasil gambar untuk chamber pengering kayu

Alat Bantu
Pada sistem tradisional, terdapat pintu kecil di bagian belakang chamber untuk dibuka sewaktu-waktu untuk pengecekan kadar MC. Cara ini mempengaruhi kinerja kiln dry karena banyak udara panas yang keluar pada saat pintu tersebut sering dibuka. Waktu yang dibutuhkan untuk pengeringan menjadi lebih lama dari yang seharusnya. Pada metode yang lebih baik saat ini, cukup menyambungkan 2 jarum pengukur kadar air dengan kabel dan dihubungkan dengan alat ukur di luar ruang pengering. Peralatan ini biasanya bisa ditemukan di dinding belakan chamber.

Jarum pengukur tersebut bisa berjumlah lebih dari satu pasang dan dipasangkan pada beberapa batang kayu pada lokasi acak. Hal tersebut bertujuan agar informasi kadar air yang dihasilkan cukup mewakili keseluruhan volume kayu di ruang pengering.


Alat ukur saat ini sudah lebih maju dengan menggunakan sistem komputer sehingga angka yang akan anda lihat di luar chamber lebih akurat dan tepat. Kelebihan peralatan ini adalah kemampuannya untuk mengatur besar kecilnya penyaluran udara/hawa panas ke dalam chamber secara otomatis.
Sistem kontrol manual juga bisa anda dapati pada beberapa kiln dry konvensional. Alat ukur yang digunakan masih menggunakan sistem analog dan pengaturan besar kecilnya volume panas masih manual.

Boiler atau ketel merupakan sumber panas bagi Kiln Dry kualitas maupun kecepatan hasil pengeringan sangat ditentukan oleh Boiler, berikut adalah hal2 yang perlu dipertimbangkan dalam memilih boiler untuk KD :
  1. Tentukan kapasitas KD yang dibutuhkan serta yang kemungkinan ada penambahan dikemudian hari. Perhitungan seperti pada posting energi panas untuk KD.

  2. Pilih akan menggunakan boiler bekas atau baru, kalau boiler bekas tentu harus cermat dalam memilih, peralatan apa saja yang masih dapat dipakai/peralatan apa saja yang harus diganti atau dimodifikasi.

  3. Akan menggunakan bahan bakar apa? apakah : a. Minyak Solar (menggunakan burner untuk pembakaran solarnya) ; b.Gas (sama seperti solar gas juga menggunakan burner untuk pembakarannya); c.Limbah kayu/serbuk kayu (gambar dibawah terdapat tungku di depannya); d. Batu bara; e. Cangkang sawit; f.Sekam padi. 

  4. Media yang akan dipanaskan apakah menggunakan : a. air panas (hot water); b. Uap air (steam) ; c. Olie (thermal oil). Masing2 mempunyai kelebihan dan kekurang
    annya, dari segi biaya paling murah adalah Hot water. Tapi Hot water boiler umumnya hanya mampu sampai suhu 100 deg celecius, tidak bisa digunakan bila kita memerlukan pengeringan dengan suhu tinggi (90~100 C) dan waktu pengeringan yang cepat. Lebih baik menggunkan Steam Boiler (suhu steam rata2 150 C pada tekanan 6 Bar) hanya saja karena peralatan dan materialnya mempunyai spesifikasi yang lebih tinggi dibanding Hot water Boiler, maka harganya pun lebih mahal

Menentukan Jumlah Fan

Aliran udara dalam Kiln Dry merupakan faktor penting yg ikut menentukan kecepatan dan meratanya hasil pengeringan. Bagaimana menentukan jumlah fan ? hasil pengeringan yang optimal mempunyai kecepatan udara melalui susunan kayu antara 1.5 ~ 2.5 m/s. Kapasitas udara melalui susunan kayu = 3600*V*(p*t/2) m3/jam Dimana : V = Kecepatan aliran udara (m/s); p = lebar ruangan (m); t = tinggi dari lantai sampai batas subceiling (m); Jumlah fan = kapasitas udara /kapasitas fan. 

Contoh : Kiln dry dengan kapasitas 50 m3 seperti terlihat pada gambar diatas : V = 2 m/s; p = 6 m; t = 4m; Kapasitas udara = 3600*2*(6*4/2) = 86400 m3/jam. Axial fan dengan motor 3 kw diameter 800 mm putaran 1450 RPM mempunyai kapasitas sebesar = 25000 m3/jam. Jumlah fan = 86400/25000 = 3.45 ~ 4 buah fan. Ket : Gunakan motor kelas H (tahan panas) dan kabel silicone untuk instalasi listrik bagian dalam kiln dry, untuk menjaga ketahanan kabel terhadap panas sehingga tidak mudah terkelupas

Energi Panas untuk Kiln Dry

Energi panas yang diperlukan untuk pengeringan kayu merupakan jumlah dari dari energi yang dikeluarkan untuk :

1.Panas latent yang deiperlukan untuk menguapkan uap air dari dalam kayu.

2.Panas yang hilang akibat rambatan panas (konduksi) melalui dinding ruangan/lantai.

3. Panas yang hilang akibat membukanya damper /vent untuk membuang kelembaban dari dalam ruangan.

4. Panas sensibel yang diperlukan untuk memanaskan kayu yang akan dikeringkan dan bangunan ruangan kiln dry. Secara keseluruhan berdasarkan perhitungan kebutuhan panas yang diperlukan untuk mengeringkan kayu berkisar antar 2500 ~ 4000 kcal/jam-m3 kayu.

Contoh : Untuk mengeringkan kayu sebanyak 300 m3 diperlukan boiler dengan kapasitas panas sebesar (asumsi panas yang diperlukan 3000 kcal/jam-m3) : 300 m3 x 3000 kcal/jam-m3 = 900.000 kcal/jam. Bila dikonversikan ke steam boiler maka : 900.000/630.000 = 1.42 ~ 1.5 ton steam/jam (uap jenuh) pada tekanan rata2 6 bar.

Bangunan Kiln Dry 

Bangunan Kiln Dry terbuat dari tembok bata atau masonry, kecuali pintu yang terbuat dari aliminium dengan lapisan insulasi glasswool atau rockwool. gambar bangunan KD kapasitas 50m3. Bangunan masonry umumnya dibuat untuk kapasitas 25m3, 50m3, 75m3, 100m3 dan 150m3. atau Kiln Dry seluruh bangunan terbuat dari full aluminium pre-fab dengan dengan lapisan rockwool/glasswool (inslulasi) dan pintu lift and slide.





Konvensional Kiln Dry

Disamping ini adalah gambar potongan dari konvensional kiln dry dengan media panas steam berkapasitas 50m3 kayu gergajian, dengan bagian2nya (klik gambar untuk memperbesar)
1. Adalah Pintu Utama umumnya terbuat dari aluminium frame dengan dinding aluminium corrugated, dan lapisan insulasi (glasswool atau rockwool).
2.Heat Exchanger, berfungsi sebagai penukar panas terbuat dari sejumlah pipa sirip atau finned tube yang didalamnya mengalir uap panas (steam), air panas, atau Oli panas (thermal oil) sebagai media pengahantar panas dari boiler ke heat exchanger. Gambaran hot water heat exchanger.

3. Damper fungsinya adalah membuang kelebihan kadar air udara didalam ruangan kiln dry, berbentuk persegi 500x500mm atau silinder dia.500 didalamnya ada flap yang dapat membuka dan menutup digerakkan oleh servomotor.
4.Fan fungsinya adalah mengalirkan udara panas dalam kiln dry agar dapat mengalir melalui celah-celah tumpukan kayu (stacking). Ukuran fan umumnya 800mm, 900mm, 1000mm dan 1200mm terbuat dari aluminium cor.
5.Subceiling, adalah pembatas antara ruang fan dan stacking kayu
6.Spray System, adalah untuk menambah kelembaban udara dalam ruang KD media yang di spray dapat berupa air dingin/panas atau uap jenuh (saturated steam).
7.Door Carriage, pengungkit pintu. Pintu yang di-ungkit akan menempel pada carriage ini dan di geser untuk membuka ruangan KD
8.Pintu Kontrol , terletak dibelakang KD berukuran kecil 700x900mm cukup untuk dialalui tubuh manusia untuk kontrol dalam ruang KD
9.Aparatus inlet steam , terdiri dari valve (globe), strainer, aktuator valve, dan valve
10.Pipa inlet steam, pipa inlet menuju heat exchanger
11.Header, adalah pipa pengumpul inlet steam dari boiler masuk kedalam header ini, kemudian dari header dengan pipa yang lebih kecil menuju masing-masing KD.
12.Kontrol, panel kontrol yang berfungsi memonitor temperatur, kelembaban udara, dan kadar air kayu di dalam ruang KD. 


Dari Berbagai Sumber

You Might Also Like

0 komentar

Like us on Facebook

Flickr Images